PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penglihatan adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam
seluruh aspek kehidupan termasuk diantaranya pada proses pendidikan.
Penglihatan juga merupakan jalur informasi utama, oleh karena itu keterlambatan
melakukan koreksi terutama pada anak usia sekolah akan sangat mempengaruhi
kemampuan menyerap materi pembelajaran dan berkurangnya potensi untuk
meningkatkan kecerdasan. Meskipun fungsinya bagi kehidupan manusia sangat
penting, namun sering kali kesehatan mata kurang terperhatikan, sehingga banyak
penyakit yang menyerang mata tidak diobati dengan baik dan menyebabkan gangguan
penglihatan atau kelainan refraksi (Depkes RI, 2009). Kelainan refraksi biasa
disebabkan oleh adanya faktor kebiasaan membaca terlalu dekat sehingga
menyebabkan kelelahan pada mata (astenopia) dan radiasi cahaya yang
berlebihan yang diterima mata, di antaranya adalah radiasi cahaya Smartphone,
komputer dan televisi. Pada gangguan yang disebabkan komputer, hal ini akan
menyebabkan terjadinya (CVS). Situasi tersebut menyebabkan otot yang membuat
akomodasi pada mata akan bekerja semua (Gondhowiharjo, 2009).
Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan penyebab
utama low vision di dunia dan dapat menyebabkan kebutaan. Data dari VISION
2020, suatu program kerjasama antara International Agency for the
Prevention of Blindness (IAPB) dan WHO, menyatakan bahwa pada tahun 2006
diperkirakan 153 juta penduduk dunia mengalami gangguan visus akibat kelainan
refraksi yang tidak terkoreksi. Dari 153 juta orang tersebut, sedikitnya 13
juta diantaranya adalah anak-anak usia 5-15 tahun dimana prevalensi tertinggi
terjadi di Asia Tenggara (WHO, 2004).
Saat ini masih tampak kurangnya perhatian di beberapa daerah
di Indonesia mengenai masalah kelainan refraksi khususnya pada anak. Hal ini
terbukti dengan adanya program pemeriksaan kesehatan anak sekolah dasar yang
lebih difokuskan pada kesehatan gigi dan mulut, padahal lingkungan sekolah
menjadi salah satu pemicu terjadinya penurunan ketajaman penglihatan pada anak,
seperti membaca tulisan di papan tulis dengan jarak yang terlalu jauh tanpa
didukung oleh pencahayaan kelas yang memadai, anak membaca buku dengan jarak
yang terlalu dekat, dan sarana prasarana sekolah yang tidak ergonomis saat
proses belajar mengajar (Wati, 2008). Keterlambatan melakukan koreksi refraksi
terutama pada anak usia sekolah akan sangat mempengaruhi kemampuan menyerap
materi pembelajaran dan berkurangnya potensi untuk meningkatkan kecerdasan
karena 30 % informasi diserap dengan melihat dan mendengar (Direktorat PLB,
2004).
Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak baik
fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas, dan sosial. Anak usia sekolah
adalah usia berkelompok atau sering disebut sebagai usia penyesuaian diri. Pada
masa perkembangan anak usia sekolah, permainan yang paling diminati adalah
permainan yang bersifat persaingan. Anak-anak masa sekolah mengembangkan
kemampuan melakukan permainan dengan peraturan (Desmita, 2008).
Pada tahun 1990 penggunaan internet dengan komputer pribadi di
rumah mulai meningkat dan hal ini makin meningkatkan pula jumlah pengguna
komputer di dunia. Setidaknya dari 15% pengguna internet dan komputer pribadi
di rumah meningkat menjadi 50% di tahun 2005 (Blehm dkk, 2005).
Seiring dengan pesatnya
perkembangan teknologi internet, game online juga mengalami perkembangan
yang pesat. Game online adalah game yang berbasis elektronik dan
visual . Game online dimasa sekarang begitu populer di berbagai kalangan, salah
satunya populer diantara anak sekolah (Rini, 2011). Dalam Rini (2011) disebutkan
beberapa pengaruh buruk game pada anak, yaitu terhadap kesehatan, kepribadian,
pendidikan/prestasi, serta terhadap keluarga dan masyarakat. Seorang anak yang
memiliki kebiasaan bermain game, beresiko mengalami stres, kerusakan mata, pola
tidur yang terganggu dan maag. Pada perkembangan kepribadiannya, anak bisa
menjadi agresif hingga melakukan tindakan kekerasan dalam hubungannya dengan
keluarga atau masyarakat. Sedangkan dalam pendidikannya, anak yang suka bermain
game online memiliki masalah konsentrasi saat menerima pelajaran. Pada era
globalisasi ini, berjuta-juta permainan telah dibuat dengan teknologi yang
semakin canggih. Semua orang dapat mengakses berbagai macam permainan melalui
jaringan internet yang sering disebut game online. Game online tentunya
dimainkan melalui media komputer. Dewasa ini, anak telah dikenalkan dengan
teknologi sejak dini, sehingga mereka cukup mendominasi sebagai konsumen game
online. Karena permainan merupakan dilakukan untuk memperoleh kesenangan
maka hal ini dapat menjadi suatu kebiasaan. Hal tersebut dapat berarti bahwa
kebiasaan bermain game online mengharuskan anak berlama-lama berkontak
mata di depan layar komputer yang tentu akan berdampak pada kesehatan matanya
(Dewi, M. 2011).
Tyag Murti Sharma, seorang dokter
spesialis mata, Rumah Sakit Medfort, mengatakan bahwa anak-anak yang terus
bermain video game selama berjam-jam akan berisiko menyebabkan masalah mata
seperti sakit kepala, penglihatan kabur, susah melihat objek yang jauh, dan
sering menyipitkan mata ketika melihat obyek jauh dan ketidaknyamanan di mata.
Biasanya dialami anak-anak usia 4 sampai 15 tahun yang sangat rentan menderita
myopia atau rabun jauh (Erin, S. 2012). Game online. Bahkan anak sekolah tersebut
masih menggunakan pakaian seragam sekolah. Mereka yang bermain di warnet
tersebut menghabiskan waktu selama 5 jam lebih di depan komputer tanpa
mengistirahatkan mata sejenak. Dengan fasilitas yang memadai membuat mereka
tanpa hentinya bermain game online sehingga mengakibatkan mata mereka yang
lelah akibat berhadapan langsung di depan komputer. Berdasarkan berita dari
Analisa tanggal 29 Mei 2012 dengan banyaknya warung internet yang beroperasi di
Medan membuat para pelajar khususnya tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah
pertama banyak menghabiskan waktu di warung internet. Tidak memandang umur dan
jenis kelamin game online membutakan penggemarnya menjadi kecanduan game
online. Hal ini di karenakan semakin majunya teknologi internet terhadap
permainan game online. Kemajuan teknologi game online membuat
penggemarnya senantiasa mengikuti perkembangan game online yang semakin pesat.
Oleh karena itu, semakin maraknya warung internet di kota Medan memungkinkan
kan pengunjung warnet khususnya anak yang masih sekolah lebih rentan untuk
mengunjungi warnet untuk bermain game online. Sehingga memungkinkan anak untuk
berlama-lama di depan monitor tanpa menghiraukan dampak yang akan terjadi pada
kesehatannya terutama kesehatan mata.
Data terbaru, setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia
merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama
saluran komunikasi yang mereka gunakan. Hasil studi menemukan bahwa 80 persen
responden yang disurvei merupakan pengguna internet Di Daerah Istimewa
Yogyakarta, Jakarta dan Banten, misalnya, hampir semua responden merupakan
pengguna internet.( SIARAN PERS NO. 17/PIH/KOMINFO/2/2014)
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Hubungan perilaku anak remaja mengenai pembelajaran
disekolah dan permainan game online dengan keluhan kelelahan mata Pekanbaru di
Kelurahan kartama raya tahun 2015”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar